Waktu Kerja, Waktu Lembur dan Upah Lembur

Waktu Kerja, Waktu Lembur dan Upah Lembur

A. Waktu Kerja

Sesuai dengan pasal 77 UU No.13 Tahun 2003, waktu kerja bagi pekerja/buruh adalah :

1. Untuk perusahaan dengan 6 hari kerja : 7 jam satu hari dengan 40 jam satu minggu;
2. Untuk perusahaan dengan 5 hari kerja : 8 jam satu hari dengan 40 jam satu minggu.

Ketentuan tersebut berlaku apabila terdapat persetujuan dari pekerja/buruh bersangkutan. Waktu kerja diatas tidak berlaku bagi pekerja/buruh anak-anak (usia 13-15 tahun). Waktu kerja maksimum untuk anak-anak adalah 3 jam sehari, sedangkan anak-anak dibawah usia 13 tahun dilarang untuk dipekerjakan.

Untuk pekerja/buruh perempuan, Pasal 76 memberi beberapa aturan:

1. Pekerja/buruh perempuan yang berusia dibawah 18 tahun dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 s/d 07.00.
2. Pengusaha dilarang mempekerjakan perempuan hamil yang menurut surat keterangan dokter dapat berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya serta dirinya apabila bekerja diantara pukul 23.00 s/d 07.00.
3. Pengusaha yang mempekerjakan buruh perempuan diantara pukul 23.00 s/d  07.00 wajib untuk :

a. Memberi makanan dan minuman yang bergizi;
b. Menjaga kesusilaan dan keamanan selama berada ditempat kerja.

4. Pengusaha wajib menyediakan angkutan antarjemput bagi pekerja/buruh perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 s/d 05.00.

Sesuai dengan Pasal 79 UU No.13 Tahun 2003, maka waktu istirahat pekerja/buruh adalah sebagai berikut:

1. Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh.
2. Pengusaha wajib memberi waktu istirahat selama sekurang-kurangnya 30 menit setelah pekerja/buruh bekerja selama 4 jam terus menerus. Waktu istirahat ini tidak diperhitungkan sebagai waktu kerja.
3. Pengusaha wajib memberi istirahat mingguan selama 1 hari untuk perusahaan dengan 6 hari kerja dan istirahat 2 hari untuk perusahaan dengan 5 hari kerja.

Undang-undang tersebut juga mengatur waktu cuti pekerja/buruh sebagai berikut:

1. Cuti tahunan wajib diberikan kepada pekerja/buruh sekurang-kurangnya 12 hari kerja setelah pekerja/buruh bekerj selama 12 bulan terus menerus.
2. Istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 (dua) tahun berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. Dalam hal ini Kepmenker No.KEP.51/MEN/IV/2004 tentang Istirahat Panjang pada Perusahaan Tertentu memberi ketentuan sebagai berikut:

a) Selama menjalankan istirahat panjang, pekerja/buruh mendapat upah penuh. Upah penuh tersebut terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap.
b) Dalam melaksanakan istirahat panjang ditahun ke-8 pekerja/buruh diberikan kompensasi hak istirahat sebesar setengah bulan gaji.
c) Hak atas istirahat panjang tersebut gugur apabila pekerja/buruh dalam waktu 6 bulan tidak mengambil haknya.
d) Perusahaan dapat menunda pelaksanaan istirahat panjang paling lama 6 bulan dengan mempertimbangkan kepentingan pekerja/buruh dan/atau perusahaan. Penundaan tersebut harus diatur dalam perjanjian kerja bersama.
e) Jika pekerja/buruh mengalami pemutusan hubungan kerja, tetapi pekerja/buruh tersebut belum mengambil hak istirahat panjangnya, dan hak atas istirahat panjang itu belum gugur, maka pekerja/buruh berhak atas suatu pembayaran upah dan kompensasi hak istirahat panjang yang seharusnya ia terima.

3. Pengusaha wajib memberikan cuti sebagai kesempatan bagi pekerja/buruhnya untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya.

4. Pekerja/buruh perempuan tidak diwajibkan untuk masuk kerja pada masa haid pertama dan kedua. Hal ini diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.

5. Pekerja/buruh perempuan berhak untuk mendapatkan istirahat selama 1,5 bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 bulan sesudah melahirkan anak menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.

6. Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran berhak untuk memperoleh istirahat selama 1,5 bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.

B. Waktu Lembur

Waktu kerja lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 jam sehari untuk 6 hari kerja dan 40 jam dalam seminggu atau 8 jam sehari untuk 8 hari kerja dan 40 jam dalam seminggu atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan atau pada hari libur resmi yang ditetapkan Pemerintah (Pasal 1 ayat 1 Peraturan Menteri no.102/MEN/VI/2004). Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam/hari dan 14 jam dalam 1 minggu diluar istirahat mingguan atau hari libur resmi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai upah lembur:

1. Pengaturan kerja lembur berlaku untuk semua perusahaan, kecuali perusahaan pada sektor usaha tertentu yang diterapkan  oleh pemerintah (misalnya pekerjaan nahkoda kapal di sektor transportasi, dan sebagainya).
2. Pekerja/buruh dengan jabatan dan golongan tertentu tidak berhak atas upah lembur. Pekerja dengan jabatan dan golongan tertentu ini adalah mereka yang memiliki tanggungjawab sebagai pemikir, perencana, pelaksana, dan pengendali jalannya perusahaan yang waktu kerjanya tidak dapat dibatasi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Kerja lembur harus dilakukan berdasarkan perintah tertulis dari pengusaha dan persetujuan tertulis dari pekerja/buruh yang bersangkutan.

Pekerja yang mempekerjakan pekerja/buruh untuk bekerja lembur berkewajiban untuk:
    a. Membayar upah lembur;
    b. Memberi kesempatan untuk istirahat secukupnya;
    c. Memberi makanan dan minuman sekurang-kurangnya 1.400 kalori apabila kerja lembur dilakukan selama 3 jam atau lebih. Minuman dan makanan tersebut tidak boleh diganti dengan uang.

 

C. Upah Lembur

Upah kerja lembur adalah upah yang diterima pekerja atas pekerjaannya sesuai dengan jumlah waktu kerja lembur yang dilakukannya.

1. Perhitungan upah lembur didasarkan pada upah satu bulan. Besarnya upah sebagai dasar perhitungan upah lembur menurut pasal 10 adalah:

a. Bila upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap, maka upah yang menjadi dasar perhitungan upah lembur adalah 100% dari upah;
b. Bila upah terdiri dari upah pokok, tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap, sedangkan julmah dari upah pokok dan tunjangan tetap adalah dibawah 75% dari seluruh upah, maka upah yang menjadi dasar perhitungan upah lembur adalah 75% dari seluruh upah pokok, tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap.

2. Besarnya upah kerja dalam satu jam adalah 1/173 dikalikan upah yang menjadi dasar perhitungan seperti yang telah disebutkan diatas.

3. Cara perhitungan upah lembur adalah sebagai berikut:

Angka 173 itu dapat dari mana???

Lihat gambar dibawah ini.

Untuk memahami lebih lanjut, simak contoh kasus berikut ini.

 

Sumber :
Kurniawan Emmanuel.”Tahukan Anda? Hak-hak Karyawan Tetap dan Kontrak”. Jakarta:Dunia Cerdas

UU RI No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

Klik untuk download artikel ini

 

Batik Software - Software Payroll

#software_payroll #softwaregaji #softwarepayroll #payroll #pengajian #humanresource #softwarepayrollgaji #SoftwareHuman #SmallPayroll #payrollcalculator #OnlinePayroll #PayrollSystem #PayrollManagement #batiksoftware #www.batiksoftware.com

  

Tambahkan Komentar